Pribadi yang Sederhana
Sayidina Ali berkata
:"Aku menikahi Fathimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain
kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta
untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta
itu." Ketika Rasulullah SAW menikahkannya (Fathimah), beliau
mengirimkannya (unta itu) bersama satu lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk
dan dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fathimah rha.
menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul
qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia
menyapu rumah hingga berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga
mengotorinya juga. Inilah dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan
dan Al-Husein. Fathimah rha. selalu berada di sampingnya, maka tidaklah
mengherankan bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya
yang penyayang. Dunia selalu mengingat Fathimah rha. , "ibu ayahnya,
Muhammad", Al-Batuul (yang mencurahkan perha.tiannya pada ibadah),
Az-Zahra' (yang cemerlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan
menjauhi keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa
payah, dia selalu berdzikir.
Inilah dia, Fathimah
Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi mulia dan terhormat. Dia telah
menggiling gandum dengan alat penggiling hingga berbekas pada tangannya. Dia
mengangkut air dengan qirbah hingga berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu
rumahnya hingga berdebu bajunya. Sayidina Ali telah membantunya dengan
melakukan pekerjaan di luar. Dia berkata kepada ibunya, Fathimah binti Asad bin
Hasyim :"Bantulah pekerjaan puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil
air, sedangkan dia akan bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung,
membuat roti dan menggiling gandum." Tatkala suaminya, Ali, mengetahui
banyak hamba sahaya telah datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fathimah,
"Alangkah baiknya bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan
darinya." Kemudian Fathimah rha. datang kepada Nabi SAW. Maka beliau
bertanya kepadanya :"Apa sebabnya engkau datang, wahai anakku ?"
Fathimah rha. menjawab :"Aku datang untuk memberi salam kepadamu."
Fathimah rha. merasa malu untuk meminta kepadanya, lalu pulang. Keesokan
harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya : "Apakah keperluanmu
?" Fathimah rha. diam. Sayidina Ali lalu berkata :"Aku akan
menceritakannya kepada Anda, wahai Rasululllah. Fathimah menggiling gandum
dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi
air hingga berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku
menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa membantunya
guna meringankan bebannya." Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah,
aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan
perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah
mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah
mereka." Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada
mereka ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi
kepala, tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menutupi kaki, tampak kepala-kepala mereka.
Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat tidur
kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang
kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW
bersabda: "Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah
kalian mengucapkan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah
10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan
Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33
kali."
Dalam pada itu,
kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia
tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia
tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah
membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu
meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan
Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya
sehingga digelar sebagai 'Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Imam Adz-Dzhabi telah
meriwayatkan bahwa Fathimah rha. pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais
tentang tubuh yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku
dengan sesuatu ?" Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat
usungan untuk wanita dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka
Fathimah rha. menyuruh membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fathimah
rha. melihat keranda itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku,
semoga Allah menutupi aurat kalian." (Siyar A'laamin Nubala). Semacam itu
juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far.
Ibnu Abdil Barr
berkata :"Fathimah adalah orang pertama yang dimasukkan ke keranda pada
masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan Asma', sedang Asma' tidak
mengizinkan seorang pun masuk. Sayidina Ali berdiri di kuburnya dan berkata :
Setiap dua teman bertemu tentu akan berpisah dan semua yang di luar kematian
adalah sedikit kehilangan satu demi satu adalah bukti bahwa teman itu tidak
kekal Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran, mata dan
hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat hubungannya dengan
Nabi SAW dan paling menyayanginya.
Dalam mendidik kedua
anaknya, Fathimah rha. memberi contoh : Adalah Fathimah rha. menimang-nimang
anaknya, Al-Husin seraya melagukan :"Anakku ini mirip Nabi, tidak mirip dengan
Ali." Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika
ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fathimah rha. berkata :
"Aduh, susahnya Ayah!" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas
Ayahanda sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fathimah rha.
berkata :
"Wahai, Ayah,
dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surga Firdaus tempat
tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."
sumber(http://reocities.com)